Mimpi dibalut dengan kepalsuan

Share :

Namaku Dea. Umur masih 17 tahun. Aku belajar di sebuah sekolah favorite SMA yang lokasinya tidak jauh dari rumah nenekku dan masih berada di kelas 11. “Nenek” ucapku ceria saat menginjakan kaki di rumah nenek yang sudah hampir dua bulan tidak aku kunjungi itu.

“Dea kamu kemana saja? Sudah lama kamu tidak mengunjungi nenek” tanya nenek. “Maaf nek, akhir akhir ini Karin sibuk tugas sekolah” jawabku.

Seorang pria menuruni tangga dengan pakaian yang cukup rapi dan tas selempang hitam yang ia gunakan. Dia paman Adi. “Eh ada Dea, udah lama disini?” Tanya paman

Baca Juga : Rasa Tak Salah Diantara Satu Rasa

“Baru sampai” jawabku kemudian
menyeruput teh yang nenek buatkan.
“Oh iya Dea, kamu sudah punya pacar?” Tanya paman Adi. Pertanyaannya membuatku kaget bukan main sampai aku tersedak air teh yang baru saja aku teguk hingga terbatuk batuk.
“Belum, emang kenapa?” Ucapku setelah berhenti terbatuk.
“Kenapa?” Beo paman Adi sambil menautkan alis tebalnya. “Kamu masih tanya kenapa?”.
Aku mengelengkan kepala tak mengerti. “Emang kenapa?” Tanyaku lagi.

“Kamu liat dong sepupu sepupu kamu! Shela sudah menikah lima bulan yang lalu, wajar saja sih dia tiga tahun lebih tua dari kamu. Sekarang kamu liat Nia! Dia sudah tunangan dengan pacarnya Reza padahal umurnya cuma beda empat bulan denganmu. Kamu liat Adel! Bulan depan Adel dan Erwin akan bertunangan untuk yang kedua setelah menjanda dua tahun . Terakhir kamu liat Novi! dia sudah punya pacar padahal umurnya lebih muda dari kamu.” Jelas paman Adi panjang lebar namun aku masih belum mengerti.

Aku mengangkat sebelah alisku “Jadi?” Paman Adi memutar bola matanya jengah “Jadi sampai kapan kamu mau menjomblo, kamu mau menjadi perawan tua?” Aku mengelengkan kepalaku cepat. Tentu saja aku tidak mau jadi perawan tua.

Baca juga : Penantian Jodoh Kekasih Halalku 

“Tapi paman aku kan masih kecil, umurku saja masih 17 tahun, aku ingin mengapai cita citaku.” bantahku.
“Tapi setidaknya kamu tidak menjomblo seperti ini, kamu ini sudah hampir 18 tahun menjomblo tau, emang kamu tidak malu sama sepupu sepupumu?” Balas paman Adi. Aku mencibikkan bibirku kesal dengan penuturan paman Adi.

Sepanjang hari ini aku hanya melamun, bahkan aku sampai tidak fokus dengan semua pelajaran yang para guru sampaikan hari ini. Ini semua gara gara ucapan paman Adi kemarin yang terus menerus terngiang ngiang di kepalaku seperti lagu masa bodo yang berputar.

“Dea! Aku pulang duluan ya” pamit Rosa teman sebangkuku. Aku mengangguk malas dan setelah itu Rosa pergi meninggalkanku dan beberapa orang yang masih membenahi barangnya di kelas ini.

Baca juga : Cegah Stroke Kurangi Makanan Instan


“Woi ngelamun bae” sentak seseorang mengagetkanku sebut saja dia Deny teman sekelasku, orangnya memang sedikit jahil dan cerewet, tapi walau begitu ia siswa yang pintar dan juga baik hati. Deny adalah pemuda yang selalu orang orang jodohkan denganku. Orang orang bilang kami serasi tapi sampai saat ini aku masih heran dengan gosip itu. Darimananya kami serasi? Mungkinkah dari inisial nama yang sama sama berawal dari huruf D? Atau dari yang lainnya? Aku tak tau dan tak mau tau.

“Ngagetin aja” ketusku. Jujur aku sedang tidak mau diajak becanda hari ini. “Kenapa sih dari pagi ngelamun terus, ada masalah?” Ucap Deny. Eh tapi bagaimana dia tau kalau aku sedang ada masalah. Deny memang luar biasa. “Nggak ada” jawabku bohong. “Lo jangan bohong Dea, aku tau kalau kamu ada masalah, gak biasanya kamu pendiam gitu” ucap Beny.

“Kok kamu tau aku lagi ada masalah?” Tanyaku heran atas kecerdikan Deny. “Deny gitu loh” sombongnya. “Cepetan cerita! Kan siapa tau temanmu yang tampan ini bisa membantumu” ucapnya terlalu narsis membuat siapa saja yang mendengarnya hampir muntah karena kenarsisanya.

Akupun menceritakan semua masalah yang aku alami, ya semuanya sedangkan Deny dengan sabar mendengarkan curhatanku itu sambil sesekali memangut mangut mengerti.

“Jadi itu masalahnya?” Tanya Deny setelah aku selesai bercerita. Aku mengangguk mengiyakan. “Aneh banget, aku gak bisa bantu kayaknya” ucap Deny Aku mendesah kecewa, entahlah apa yang bisa kulakukan untuk menyelesaikan persoalan ini. Hingga sebuah ide cemerlang tiba tiba muncul di kepalaku begitu saja seperti angin berhembus.

“Aku ada ide” laporku sambil tersenyum senang. “Ide apa?” Ucap Deny antusias kemudian aku membisikan sesuatu ditelinganya Deny.

“Gak mau, gak mau, idenya jelek” tolak Deny. Aku mengerucutkan bibirku dan menyilangkan tanganku di depan dadaku. “Gimana sih katanya mau bantu” ketusku merajuk. “Tapi gak gitu juga Dea” ucap Deny. Namun aku masih di posisi semula. “Kita pikirkan cara lain!” Deny berfikir keras.

Sudah 10 menit Deny berfikir tapi ide cemerlang itu tak kunjung datang.

“Udah ada solusi belum?” Tanyaku, Deny menggeleng lemah. “Aku bilang juga apa, cuma ada satu cara.” Deny menghela nafas berat “Yaudah deh” pasrahnya. “Yeay, terima kasih Deny” pekikku kegirangan. “Kali ini aja ya!” Peringat Deny, aku mengangguk antusias. “Kapan kita mulai?” Tanyanya. “Kalau minggu depan selepas pulang sekolah gimana?” Putusku. “Soalnya minggu depan kan ada kumpul keluarga nanti kamu harus ikut!” Ucapku menjelaskan, Deny mengangguk mengerti.

Seminggu telah berlalu dan hari ini adalah hari dimana rencanaku dan Deny dimulai.

“Dea! Liat! Udah ganteng belum?” Ucap Deny sambil berlenggak lenggok layaknya model. Deny menggunakan kemeja dengan jaket levis dan rambut sedikit acak acakan. “Mirip Dilan kan?” Ucap Kamal sambil menaik turunkan kedua alisnya. “Deny jelek!” cercaku langsung membuat Deny terrunduk malu.

“Dea” Panggil Deny “Hm” “Beneran kita pura pura pacaran?” Tanya Deny lirih dan hampir tak terdengar. “Cuma becanda kok” ucapku enteng, Deny langsung tersenyum sumringah. “Ya beneran Deny, kamu pikir aku bohong” ucapku, Deny kembali cemberut. “Kalau keluarga kamu nanya aku ini siapanya kamu gimana?” Tanya Deny serius.

“Bilang aja kamu calon suami aku” jawabku enteng. Mendengarnya Deny menjitak keningku keras membuatku meringis kesakitan sambil mengusap ngusap keningku yang terasa sakit. “Sembarangan! Ucapan itu adalah doa, kalau sampai terkabul gimana? Emang kamu mau nikah sama temanmu yang tampan ini?” bantah Deny.

“Yaudah kalau gitu bilang aja kalau kamu itu pacar aku” ucapku kemudian. Deny mendecih “Gak mau, kalau aku bilang kita pacaran orang orang makin gencar ngejodoh jodohin kita” jelas Deny, tapi memang ada benernya juga. “Yaudah terserah kamu mau jawab apa, kamu kan pinter” pasrahku. “Eh curut! Emang aku doang yang pinter, kalau kamu gak pinter gak mungkin kita saingan memperebutkan peringkat umum” cereca Deny, mengatakan yang sebenarnya.

Deny dan aku berpikir sebentar hingga akhirnya “Aku jawab aja kalau kita cuma temenan, gimana? Kita kan emang temenan” ucap Deny, aku mengangguk menyetujuinya.

Kemudian kami mulai berjalan beriringan ke rumah nenek yang lokasinya tidak terlalu jauh dari sekolah kami. Saat kami hampir sampai di rumah nenek seseorang menghentikan langkah kami berdua.

“Deny! Dea!” Pekik seseorang itu memanggil nama kami. Sontak kami berbalik bersamaan. Ternyata yang memanggil kami itu adalah kak Indah (tetangganya nenek sekaligus kakak kelas kami yang baru lulus). Dia mengenalku karena dia tetangganya nenek. Jangan tanyakan bagaimana dia bisa mengenal Deny, Deny adalah seorang siswa yang sangat terkenal hampir semua warga sekolah mengenalnya, bahkan rakyat yang tinggal di sekitaran sekolah juga mengenalnya.

“Kalian pacaran?” Tanya kak Indah. “Eh nggak, eh Iya, nggak, iya, mungkin” jawab Deny kikuk. “Yang bener yang mana? Iya atau nggak?” Sentak kak Indah yang membuat Beny kesulitan menelan ludahnya sendiri. Aku yang mengerti situasinya membisikan sesuatu di telinga Kamal. “Udah jangan dijawab, gak penting” bisikku kemudian mengenggam tangan Deny dan menariknya sambil berlari. Saat sampai pintu rumah nenek, Deny melepaskan gengaman tanganku dan dan keringat dingin mulai mengucur di wajahnya.

“Assalamu’alaikum” ucapku di ambang pintu semua menjawab tanpa terkecuali. Disana sangat ramai, mungkin itu yang membuat Deny mengeluarkan keringat dingin. Bahkan sampai pasangan pasangan dari sepupuku saja hadir, jadi aku membawa Kamal di waktu yang tepat.

“Mana pacarmu katanya kamu mau membawanya hari ini?” Tanya paman Adi. Aku menarik tangan Kamal paksa sampai dia berdiri disebelahku saat ini. Deny tersenyum hambar kepada keluarga besarku. “Deny?” Beo tante Lina. “Tante kamu kenal aku?” bisik Deny. “Kamu kan terkenal” jawabku.

Setelah itu Deny disuruh masuk dan diinterogasi oleh banyak orang, ia sampai kewalahan harus menjawab apa. Sedangkan aku hanya tertawa terbahak bahak di kamar nenek melihat ekspresi Deny yang sangat lucu.

Baca juga : Harus Tegas Dengan Pilihannya

“Seriusan kamu pacaran sama Deny?” Tanya Novi membuatku membeku di tempat. “Sayang emamg kamu kenal dia?” Tanya Erwin pada Novi. “Iyalah sayang dia itu kan Beny orang ketiga yang pernah muncul dalam hubungan kita, masa kamu gak tau” jawab Novi. Kamal masih kewalahan dengan pertanyaan pertanyaan yang banyak dari orang yang berbeda itu. Aku masih terus tertawa melihat ekspresi Deny hingga tubuhku rasanya seperti diguncang guncang seseorang. Tak lama suara teriakan yang khas terdengar.

Halaman Selanjutnya :

  1 2 3

ARTIKEL TERKAIT :


ARTIKEL TERBARU :



      ARTIKEL POPULER :

        komentar