Cintaku cintamu bukan cintanya

Share :

"Aku mencintaimu," kata ini meluncur dari seorang cowok yang berpakaian lusuh dan belepotan kotor. Ia nyengir, seperti tak ada beban berkata seperti itu. Dan cewek yang diajaknya bicara hanya cengar-cengir, menggerak-gerakkan tubuhnya yang terbalut kain kotor. Ia senyam-senyum, cengengesan dan mengulum ibu jarinya.

"A.....pa, mas mencintaiku," kata cewek itu pelan nan lenjeh, "aku juga mencintai mas," lanjutnya.

Baca juga :
 Penantian Jodoh Kekasih Halalku

Cowok itu tersenyum, cengengesan, dan segera berlari. Aneh, tapi itulah yang selalu diperbuatnya. Ia lari kencang sekali, tak peduli. Lari tanpa arah, yang dibenaknya hanya ada kata: sungai. Dan, di sungai yang kotornya nan butek tak ketulungan cowok itu menceburkan diri,"byuuuurrrrr"

"Ha...ha...ha....," rupa-rupa teman-teman yang melihat kejadian ini tertawa.

"Sungai inikan habis kita kencingi" "Tadi, aku juga buang kotoran juga" "Cowok itu hebat, berani mandi dengan kencing dan tahi kita" Kata-kata anak gelandangan itu bersahutan. Menertawakan. Cowok itu tak peduli, terus mandi dan berenang ke tepian. Seterusnya ia mengusir anak-anak gelandangan itu.

"Dasar anak-anak edan ...," teriak cowok itu.

"Kamu yang gila, ceritanya lagi jatuh cinta...ha..ha..ha.." ledek anak-anak itu.

Di perkampungan kumuh itu, siapa yang tidak mengenal cowok itu. Tingkahnya yang selalu aneh semakin melegitimasinya sebagai pemuda gila; suka mandi di kali yang kotor, berteriak memanggil nama-nama perempuan, nyanyi-nyanyi sendiri, bicara sendiri semuanya sudah jadi kebiasaan setiap hari. Tapi, ada penghargaan terhadap ciwok itu, ia pintar, cerdas, dan dermawan sekalipun hidupnya sangat hina dan miskin. Jangan menyebutnya miskin, karena dalam dunianya yang hina tak ada yang memikirkan harta, yang ada hanya pikiran mengisi perut untuk hari ini. Hebat, tak pernah memikirkan uang untuk jadi kaya.

Baca juga : 
Ceritanya cowok itu lagi jatuh cinta. Sama siapa? Sama gadis yang biasa berkeliaran di jalan. Siapa namanya? Tidak tahu. Rumahnya? Juga tidak tahu. Di mana ketemunya? Di tepi jalan. Waktu itu, gadis  itu lagi nyanyi-nyanyi dipinggir jalan.

"Mau ke mana, Neng?" "Cari cowok" "Emangnya siapa nama cowoknya?" "Tidak tahu. Tapi, kamu kok mirip juga dengan cowokku." "Masak!" "Iya bener, wajahmu, matamu, hidungmu, tubuhmu, iya mirip benar dengan orang yang kucari"

Sejak itu, pemuda itu merasa bangga dengan dirinya. Ia merasa lelaki, sebab ada perempuan yang mencari. Dan dia jatuh cinta, saban hari yang selalu dilakukannya adalah berkata tentang Cinta. Cinta. Cinta. Tak mengherankan bila sebagian teman-temannya yang juga mengatakan ia semakin gila karena Cinta. He...he...he...

Cowok itu terus berlari, anak-anak gelandangan mengikutinya di belakang. "Hidup Cinta, hidup Cinta, hidup Cinta," teriak anak-anak itu layaknya suporter kesebelasan yang mendukung timnya bermain pertandingan sepak bola. Di depan warung penjual es, semua berhenti. Dan, pemuda itu memesan es sejumlah dengan pengikutnya. Semua ditraktir es oleh pemuda gila itu. Asyik kan.

"Wah, hebat. Cinta itu hebat, ya. Bisa bikin kaya, buktinya si Gila ini mentraktir kita hanya karena Cinta," seru salah seorang anak.

Cowok itu tersenyum. Nyengir. Bego. "Cinta itu sebenarnya apa sih, Gila," tanya seorang anak pada cowok itu. "Cinta itu,...nanti dech kutunjukkan. Sekarang habiskan dulu es-nya." Setelah selesai pesta es, pemuda gila itu berkata, "apa kalian pingin tahu, Cinta itu apa?"

Serentak anak-anak gelandangan itu menganggukkan kepala.

Baca Juga : 


"Ayo, sekarang ikut aku. Akan kutunjukkan pada kalian Cinta itu apa," kata pemuda gila itu. Dan berlari. Semua anak m8engikuti dengan perasaan penasaran. Di tepi jalan raya yang dipadati kendaraan cowok itu berhenti. Anak-anak gelandangan itu mengikuti. Berhenti. Napas mereka tersengal-sengal. Kesal. "Ayo, dong katakan Cinta itu apa?" kata salah seorang anak.

"Baiklah, Cinta adalah hasil investasi. Jika dua orang saling menyukai, maka mereka akan sama-sama berusaha untuk semakin mendekat. Bila usaha tersebut rutin dilakukan terus menerus, perasaan suka itu akan berkembang menjadi cinta.

Sebaliknya, bila hanya satu orang yang berusaha sementara satunya lagi tidak, maka perasaan itu tidak akan tumbuh menjadi cinta.

“Cinta adalah pengorbanan” atau “Cinta adalah apa yang dirasakan di hati” sebenarnya tidak salah bila Anda sudah memiliki pasangan.

Memang perlu mengorbankan waktu dan tenaga untuk menjaga hubungan. Anda juga pasti merasakan cinta di hati setelah banyak berinvestasi ke pasangan.

Namun, salah besar bila Anda menerapkannya saat masih tahap PDKT. Seperti saya jelaskan di atas, banyak berkorban saat PDKT justru merugikan kamu dan kamu karena belum tentu dia menerima cinta kamu.

Langsung menilai rasa deg-degan di hati sebagai tanda cinta juga bisa membuat kamu cepat baper. Seharusnya tidak perlu terlalu banyak berinvestasi waktu, uang, dan pikiran untuk seseorang yang berstatus gebetan

ARTIKEL TERKAIT :


ARTIKEL TERBARU :



      ARTIKEL POPULER :

        komentar