Aku menarik tubuhku lebih dekat lagi ke dalam dekapannya yang hangat. Semua ini cukup membuatku bahagia. Bisa merasakan tubuh Hary yang hangat saat ia memelukku erat di Senin malam. Semuanya sempurna malam ini sampai akhirnya Jon kembali muncul ke dalam pikiranku. Apa yang sedang ia lakukan sekarang? apa yang sedang ia pikirkan? apakah ia masih berharap bahwa aku akan kembali kepadanya? Apa ia masih berharap bahwa rasa yang telah mati ini akan kembali hidup? Ia pasti depresi sekali sekarang. Betapa bodohnya aku bisa menyakiti seseorang seperti dia yang jelas-jelas memberikan aku tempat terbaik dan ternyaman dihatinya. Dan aku meninggalkannya begitu saja dengan sejuta pisau yang kini sedang menyakitinya.
“Jon.” Bisik Hary sambil mengusap pelan rambutku.
“You read my mind.”
“Baby, I’m not Edward Cullen. I can’t read your mind. But your eyes told me so.” Ia berusaha menutupi suaranya yang lirih dengan mencobanya selembut mungkin. Tapi aku sudah mengetahuinya ia menyembunyikan sesuatu dariku. Ia juga tersakiti. Aku sudah menyakiti dua lelaki sekaligus. Dua lelaki yang sama-sama menyayangiku.
“Dia pasti depresi sekali sekarang.”
Aku hanya terdiam begitu menyadari apa yang telah aku ucapkan. Ini sama saja aku membuka topik baru yang menjurus pada Jon. Yang pasti akan menyakitinya.
“Ini semua salahku.”
“Tidak.” bantahku.
“Ya.”
Aku melepaskan tangannya yang melingkari pinggangku. Dan mengubah posisiku dengan duduk dihadapannya. Kini aku bisa melihat wajahnya yang tampan.
Aku tersenyum ketika menyadari sekarang ia adalah milikku. Walau bayangan Jon masih terus menghantuiku. Ia menatapku bingung dengan matanya yang hangat. Matanya yang berwarna hitam pekat.
“Ini semua salahku. Kalau aku tidak mati rasa mungkin aku tidak akan menyakitinya.” Aku meraih tangannya dan meremas tangannya.
Ia tersenyum lalu terkekeh sebentar dan kembali memasang wajahnya yang serius. “Kalau aku tidak memasuki kehidupanmu,” Hary menarik tubuhku kembali kepelukannya, tapi aku menahan tubuhku untuk tidak bergerak. “kau tidak akan merasakan mati rasa sayang.”
“Mati rasa itu datang jauh sebelum kita dekat Hary.” Kini Hary ikut mengubah posisinya dengan duduk berhadapan denganku.
“It’s a sign.”
Aku diam tidak mengerti apa yang Hary maksud. Kami saling menunggu salah satu dari kami membuka mulut dan Hary tahu aku tidak akan bicara sampai ia yang memulainya. Selalu begitu.
“Hmmm…” Hary bergumam dengan raut wajahnya yang seperti mencari sesuatu.
“Apa?” tanyaku polos.
“Mengapa kau lebih suka di panggil Andie –en’di-? Padahal kau mempunyai nama yang bagus, Selliee Anindya?”
“Karena aku menyukainya. Dan simple.”
“Mengapa kau memilihku?”
“Karena aku menyukaimu. Menyayangimu.”
“Mengapa kau meninggalkan Jon?”
Suasana berganti sunyi ketika pertanyaan itu muncul. Tapi dengan mantap dan mengalir begitu saja jawaban pun terucap dari mulutku. “I become a numb.”
“That’s why.”
“Tapi aku masih tidak mengerti.”
Hary menghela nafas dan kembali bersandar pada tempat tidur sambil menarik tubuhku kembali ke dalam pelukannya. Aku tidak melawan kali ini dan membiarkan tubuhku begitu saja jatuh ke dalam pelukannya.
Jangan sampai kita malah menyalahkan orang lain, yang sebenarnya kita juga ikut andil dalam berbuat kesalahan.
“There is only one sense, one flavour, one feel, one heart in your heart. Kau mungkin bisa saja menyalahkan hatimu atau dirimu sendiri atas semua yang telah terjadi pada Hary. Tapi secara tidak langsung itu semua salahku. Kalau aku tidak datang ke kehidupanmu kau tidak akan merasakan perasaan yang sekarang kau rasakan. Yang telah mengganti posisi Jon dari hatimu. Hanya ada satu rasa Sellie. Dan kini aku lah yang menempati posisi itu. Dari situlah mengapa kau mati rasa pada Jon. Itu semua karena aku datang. Kedatanganku menggeser posisi Jon.” ugkap Harry.
Aku hanya diam dan berusaha mencerna semua kata-kata . Jadi karena itu semua Hary tidak pernah merasa puas memilikiku, mengalahkan Jon, dan mendapatkan yang ia inginkan. Hary merasa bersalah. Karena itu ia tidak selalu bahagia saat bersamaku. Ia tahu aku masih terus memikirkan Jon. Memikirkan Jon berarti sama saja dengan menyalahkan diri Hary.
Aku mendongak menatap Hary dan tersadar aku menangis. Aku terlalu lemah untuk ini semua. Akulah penyebab dua lelaki tersakiti. Aku menusuk Hary dengan jarum yang tajam tapi aku menyertai benang kebahagiaan. Tetap saja jarum itu akan menyakitinya, meskipun benang itu akan membuatnya bahagia, jarum itu tidak akan berhenti menusuknya dan mengulang semuanya terus menerus.
Jon. Aku memberikan kehidupan yang sakit padanya. Bukannya kematian yang damai. Sekarang aku mengerti mengapa banyak orang yang sekarat di luar sana mengharapkan kematian dari pada kehidupan. Karena mereka akan tenang dalam kematian atau hidup dalam kesengsaraan. Mungkin itulah yang sekarang Jon rasakan.
“Hary.” Aku memanggilnya dengan suaraku yang parau akibat air mata yang terus mengalir.
“Jangan menangis.” bisiknya sambil menarikku ke dalam pelukannya lebih dalam lagi.
Aku tidak mehiraukannya. “Maafkan aku. Kau tidak pantas menanggung semua perasaan bersalahmu. Kau benar. Hanya ada satu rasa dihatiku dan sekarang kaulah yang menempati posisi itu. Aku harus belajar melupakan Jon atau terus mengingatnya dan membuat kita sama-sama merasa tersakiti.”
Aku merasakan senyuman Hary. “Aku menyangimu. Rasa ini hanya untukmu. Satu-satunya”
“Satu-satunya.” ucap Hary sambil mengecup keningku.
Jon. Maafkan aku. But you deserve more than me. Harylah yang sekarang memiliki kuasa atas semua hatiku. Dialah pemiliknya. Aku tidak akan menyianyiakan apa yang telah aku dapatkan. Aku tidak mau melakukan kesalahan yang sama. Hanya ada 1 rasa. Dan HARYlah yang memiliki itu.
komentar