Aku tersenyum di silaukan sinar jingga yang dengan genit mengenaiku. Iseng-iseng ku mainkan kakiku ke tepian pantai, saat ombak mengenaiku aku berlari menjauh lalu ombak surutmenyisakan pasir basah yang polos. Dan tiba-tiba aku ingat dirimu, namamu menggelitik inginku kemudian ku tulis namamu di pasir basah itu “DEA”. .
Dulu kau sangat menyukai pantai, pasir, terlebih ombak. Tiap pagi kau membangunkanku utuk melihat sunrise dan sunset ketika sore, kau tak pernah bosan dengan pantai dan kaleng ajaibmu. .
Kau selalu berkata, “ tuliskan inginmu, masukkan ke botol dan lempar ke laut, maka dewa laut akan mengabulkan inginmu”. Ya..kau percaya bahwa dewa laut itu ada. Kau memang selalu aneh. Kau tau, Dea? .
Diam-diam selama ini aku juga mempercayai adanya Dewa Laut, dewa yang menurutmu dapat mengabulkan inginmu. Aku melempar 3 botol tiap minggunya, berharap dewa masa kecilmu memang ada dan mengabulkan inginku. Pun barusan ak melmpar lagi, bukan apa-apa, aku hanya berharap dapat bertemu denganmu, itu saja. .
Lagi-lagi aku tersenyum geli mengingatmu. .
‘ Kau dimana? Tak rindukah kau padaku, Dea?’ Spontan dadaku sesak, nafasku berat. Langit sepenuhnya gelap mirip keresahan para pelaut saat penghujan datng. Tak ada mendung yang menyangga langit-lanvgit, hanya beberapa bintang menggantung di sisi gelap pantai ini. .
Aku menunduk. Lirihku, “ aku masih menunggumu”. Aku membuka pesan whasapp yang sedari tadi bertengger di dalam ponsel saku celanaku. ...suaraku.. .
Untukmu, Ayangku_ku
Ak tak berani memberimu janji, ..Tapi, temuilah aku di pantai kita akhir purnama ini. Percayalah, aku sangat merindukanmu
Aku_mu
Dea Muranti
......’aku juga kangen, Dea’...
Pandangan ku kabur dan angin seolah tajam menggores tinta dingin di kulitku,lalu semua benar gelap...

komentar